Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by abu haqqilah

Saturday, April 21, 2012

Al Wala' Wal Baro'


A. Definisi Al Wala' Wal Baro'

a. Tinjauan Bahasa
- Al-wala' (الوَلاَءُ) berasal dari kata ( وَالىَ - يُوَالِى - مُوَالاَة - وَلاَءً ) yang artinya; dekat, mencintai, menolong dan saling mencintai. [1]
- Al-Baro' ( البَرَاءُ) berasal dari kata (بَرِئَ - يَبْرَأُ - بَرَاءَةً ) yang artinya; jauh dan berlepas/terbebas. 2

b. Tinjauan syar'ie
الْوَلاَءُ : الْوَلاَيَةُ هِىَ النُّصْرَةُ وَ الْمَحَبَّةُ وَ الإِكْـرَامُ وَ الاِحْتِـرَامُ وَ الْكَوْنُ مَعَ الْمَحْبُوْبِيْنَ ظَاهِـرًا وَ بَاطِنًـا
- Al Wala' = walayah adalah pertolongan, kecintaan, penghormatan, pemuliaan dan selalu bersama dengan orang-orang yang dicintai, secara zhahir ataupun bathin. 3

الْبَرَاءُ هُوَ الْبُعْدُ وَ الْخَـلاَصُ وَ الْعَدَاوَةُ بَعْدَ الإِعْذَارِ وَ الإِنْـذَارِ
- Al Baro' adalah menjauh, terbebas dan bermusuhan setelah memberikan peringatan dan ancaman. 4

قَالَ شَيْخُ الإِسْلاَمِ ابْنُ تَيْمِيَّة : الْوَلاَءُ ضِدُّ الْعَدَاوَةِ. وَ أَصْلُ الْوَلاَيَةِ : الْمَحَبَّةُ وَ اْلقُرْبُ. وَ اَصْلُ الْعَدَاوَةِ الْبُغْضُ وَ الْبُعْدُ
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "walayah (loyalitas) adalah lawan kata dari 'adawah (perseteruan). Asas walayah adalah kecintaan dan dekat, sedangkan asas 'adawah adalah kebencian dan jauh. [5]

B. DI-SYARIAT-KANNYA AL WALA' WAL BARO'

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ { المـائدة 55}
Sesungguhnya penolong-penolong kamu hanyalah Allah, Rosul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآَئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ { المــائدة 54}
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari dien-nya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui).

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : اَوْثَقُ عُرَى الاِيْمَـانِ الْمُوَالاَةُ فِى اللهِ وَ الْمُعَـاداَةُ فِى اللهِ وَالْحُبُّ فِى اللهِ وَ الْبُغْضُ فِى اللهِ (أَوْرَدَهُ الألبـانى فى صحيح الجـامع الصغير )
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, ikatan iman yang paling kuat adalah memberikan loyalitas karena Allah, mengadakan perseteruan karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah. (Hadist ini dimasukkan oleh syekh Al Banie dalam jami' shaghir No. 2536)

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَـلِّى اَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : بَايَعَهُ عَلَى اَنْ تَنْصَحَ لِكُلِّ مُسْلِمٍ وَ تَبْرَأَ مِنْ الكَافِرِ (حديث حسن رواه الإمـام أحمد )
Dari Jarir bin Abdillah al Bajallie, Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam membaiatnya untuk setia kepada setiap muslim dan baro' dari orang kafir (hadits hasan diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

C. TUJUAN (DISYARE'ATKANNYA) AL WALA' WAL BARO'

1. Menegakkan Kalimatullah

Tegaknya kalimatullah tidak akan pernah terwujud kecuali setelah Al Wala' diberikan kepada yang berhak dan Al baro' diterapkan kepada yang berhak. Dan dari sanalah bermula kekuatan kaum muslimin, sehingga mereka tidak pernah dikalahkan oleh musuh-musuhnya.

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلاَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلاَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلآَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ { المجــادلة 22}
Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rosul-Nya, sekalipun orang -orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridlo terhadap mereka dan mereka puas terhadap (limpahan rohmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ { البقرة 193}
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) dien itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi) terhadap orang-orang yang zholim.

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ { الصف 4}
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.

2. Memisahkan auliyaaullah dari auliyaausy-syaithon secara sempurna

Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa tidak meridloi auliyaa'-Nya bercampur, berkumpul dan bermukim bersama-sama auliyaa'usy-syaithon. Allah menghendaki Auliya'--Nya harus meninggalkan mereka, berhijroh dan selanjutnya berjihad.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَآؤُا مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إْلاَّ قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ ِلأَبِيهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآأَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِن شَىْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ{ الممتحنة 4}
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang beriman bersama-nya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu) dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sebelum kamu beriman kepada Allah saja." Kecuali perkataan Ibrohim kepada bapaknya, "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrohim berkata), “Ya Robb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali".

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ تُسَاكِنُوْا الُمشْرِكِيْنَ وَ لاَ تُجَـامِعُوهُـمْ فَمَنْ سَاكَنَهُمْ أَوْ جَامِعَهُـمْ فَلَيْسَ مِنَّـا (رواه الحـاكم صحيح على شرط البخارى ووافقه الذهبى )
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian tinggal atau berkumpul dengan orang-orang musyrik. Maka barangsiapa tinggal atau berkumpul dengan mereka bukanlah dari golongan kami". (HR.Al-Hakim, Shahih menurut syarat Al-Bukhori dan disepakati oleh Adz-Dzahabie)

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ { الانفــال 74}
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizqi (nikmat) yang mulia.

3. Menjaga kemurnian ajaran Islam

Dari semula, Islam yang dibangun diatas pondasi berserah diri kepada Allah dan melaksanakan titah-Nya apa adanya, telah meletakkan kaidah yang berkaitan dengan pelaksanaan ajarannya. Islam telah sempurna, tidak perlu ditambah atau dikurangi. Islam juga mengantisipasi kemungkinan timbulnya kerusakan ajarannya dengan mensyareatkan hajr kepada Ahlu Bida' wal Ahwa' (pelaku bid'ah dan yang bertindak semau hawa nafsunya).

Imam Malik bin Anas Rahimahullah berkata6 , "Barangsiapa mengadakan suatu hal baru di dalam umat ini yang belum pernah dikerjakan oleh pendahulu mereka, maka ia telah menuduh Rosulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengkhianati dien. Karena Allah berfirman :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا ... { المـائدة 3}
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu dienmu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi dien bagimu.

Apa-apa yang hari itu tidak termasuk dien, hari inipun tidak termasuk dalam dien.

Sufyan bin 'Uyainah Rohimahullah berkata7 , "Apa yang dimaui oleh orang-orang yang menuruti hawa nafsunya sehingga mereka benar-benar begitu mencintai (cenderung) hawa nafsu mereka ? Apakah mereka melupakan firman Allah :
... وَأُشْرِبُوا فيِ قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ .... { البقرة 93}
Dan telah diresapkan dihati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafiran mereka.

4. Menjaga kesinambungan keberadaan dan kemurnian masyarakat Islam.

Islam benar-benar menjaga keberadaan masyarakatnya, antara lain dengan disyareatkannya pemenuhan hak bagi seorang muslim dari saudaranya, dilarang bertasyabuh dengan non Muslim, dan diputuskan hubungan pernikahan dan perwarisan antara kaum muslimin dan non Muslim, dll.

D. RUANG LINGKUP AL WALA' WAL BARO" DAN GAMBARANNYA DALAM PRAKTEK

1. Aqidah Ahlus Sunah wal Jama'ah dalam al wala' wal baro'

Memberikan Al Wala' wal Baro', menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah, haruslah didasari keterangan dari Allah, Al Qur'an. Berkenaan dengan ini Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengklasifikasikan manusia menjadi tiga kelompok. 8 :

1. Orang-orang yang diberi wala' dan kecintaan secara utuh. Mereka adalah orang yang beriman kepada Allah dan RosulNya, melaksanakan ajaran-ajaran Islam berdasarkan Ilmu dan keyakinan yang teguh. Mereka adalah orang-orang yang mengikhlaskan segala perbuatan dan ucapannya hanya untuk Allah. Mereka adalah orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah dan RasulNya, mereka memberikan wala' dan baro' karena Allah, serta mendahulukan perkataan Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam atas orang lain, siapapun orangnya

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ {55} وَمَن يَتَوَلَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْغَالِبُونَ {المـائدة 56}
Sesungguhnya wali-wali kamu hanyalah Allah, RosulNya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa yang mengambil Allah, RosulNya dan orang-orang yang beriman menjadi wali-nya, maka sesungguhnya hizbullah, itulah yang pasti menang.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ { التوبة 71}
Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi wali sebagian yang lain.

2. Orang-orang diberi Al Wala' dari satu sisi dan diberi Al Baro' dari sisi yang lain. Mereka adalah orang-orang beriman yang terkumpul pada diri mereka amal kebajikan dan amal yang buruk, diberikan kepada mereka al Wala' sesuai dengan kadar kebajikannya dan diterapkan kepadanya Al Baro' sesuai dengan kadar kejelekan yang ada pada dirinya.

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى اْلأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِىءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ {9} إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ { المجادلة 10}
Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah) , maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adil-lah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rohmat.

3. Orang-orang yang diterapkan kepadanya Al Baro' secara utuh. Mereka adalah orang-orang kafir, pelaku syirik akbar, munafik, murtad dan ahlul bid'ah kufriyyah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَآءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {المائدة 51}
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nashroni menjadi wali-wali-mu; sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim.

لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلاَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلاَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلآَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ { المجــادلة 22}
Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RosulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka puas terhadap (limpahan rohmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itulah golongan yang beruntung.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّخِذُوا ءَابَآءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَآءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى اْلإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ { التوبة 23}
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang dholim.

Termasuk dalam Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, wala' dan baro'-nya hati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menulis; Adapun kecintaan dan kebencian hati haruslah benar-benar utuh. Ia tidak boleh dikurangi kecuali dengan berkurangnya kadar Iman, sedangkan praktek zhahir terhadapnya, tergantung pada kemampuan masing-masing. Memberikan Al Wala' wal Baro' tidak boleh didasarkan pada Hawa Nafsu 9

Gambaran Al Wala' wal Baro' dalam praktek :

1. Hak muslim atas muslim yang lain
Kecintaan kerena Allah (المَحَبَّةُ فِى الله) yang orang-orang yang beriman berkumpul diatasnya melahirkan hak-hak muslim atas saudaranya. Diantara hak muslim atas saudaranya yang berkaitan dengan Al Wala' wal Baro' ialah :

a. Kasih Sayang

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَـا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ { متفق عليه }
Rasululllah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Tidaklah sempurna Iman seseorang diantara kalian sehingga mencintai saudaranya seperti mencintai diri nya sendiri (HR. Bukhori Muslim)

تَرَى الـمُؤْمِنِيـْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَ تَرَاحُمِهِـمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ اِذَا شْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَـائِرُ الْجَسَدِ باِلسَّهَرِ وَ الْحُمَى ( رواه البخارى و مسلم )
Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda, engkau melihat orang -orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi bagaikan tubuh, apabila salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuh akan tidak bisa tidur dan demam. (HR. Bukhori Muslim)

b. Pertolongan
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا { البخاري }
Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda, “Tolonglah saudaramu dalam keadaan zholim ataupun terzholimi” (H.R. Bukhari)

قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : المؤمن مرأة أخيه { البخاري}
Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya”. (H.R Bukhari)

2. Hijroh
Islam melarang umatnya menetap ditengah-tengah orang-orang non muslim. Bermukim bersama mereka menimbulkan kesan menyatu dengan mereka, kelemahan dan jiwa-jiwa mereka terdidik menjadi jiwa-jiwa yang loyo, lalu mereka bertoleransi dan akhirnya mereka akan larut. Islam menghendaki seorang muslim haruslah mempunyai kekuatan dan ‘izzah, harus menjadi panutan dan tidak malah membeo, harus mempunyai kekuasaan yang tidak ada lagi kekuasaan diatasnya kecuali kekuasaan Allah. Oleh sebab itu setiap muslim tidak boleh tinggal di negeri yang tidak dikuasai Islam kecuali jika ia mampu menampakkan keislamannya dan beramal sesuai dengan Aqidahnya tanpa ada rasa takut terhadap timbulnya fitnah (baca ; madlorot) pada dirinya. Jika tidak, maka ia wajib keluar, mencari negeri yang dikuasai oleh pemerintah Islam. Jika ia enggan, maka Islam berlepas darinya, kecuali jika ia tidak mampu untuk berhijroh. 10

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : اَنَا بَرِئٌ من كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيْمُ بَيْنَ اَظهَرِ الُمشْرِكِينَ { رواه ابو داود و الترميذى و حسنه الالبانى }
Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda, " Aku berlepas diri dari seorang muslim yang bermukim di tengah-tengah orang musyrik . (HR. Abu Dawud dan At Turmudzi, dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Syekh Al Banie)

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ تَنْقَطِعُ الِهجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَ لاَ تَنقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغرِبِهَـا { رواه أحمد و صححه الألبانى }
Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda, " Hijroh tidak akan terputus sampai terputusnya taubah, dan taubah tidak akan terputus sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya. " (HR. Ahmad dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh syekh Al Banie)

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُوْلاَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَآءَتْ مَصِيرًا {97} إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً {98} فَأُوْلاَئِكَ عَسَى اللهُ أَن يَعْفُوَعَنْهُمْ وَكَانَ اللهُ عَفُوًّا غَفُورًا { النســاء 99}
sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dengan keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?". Mereka Menjawab, “ Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)". Para malaikat berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu .. ?. Orang-orang itu tempatnya jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki maupun perempuan ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Mereka itu, mudah-mudah Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Batasan menampakkan dien11 bukanlah dibiarkannya seseorang sholat dan mengatakan saya tidak menyembah berhala. Tetapi menampakkan dien adalah berterus terang kepada orang-orang kafir dalam menampakkan dan mewujudkan perseteruan, sampai mengatakan

لآَأَعْبُدُ مَاتَعْبُدُونَ {2} وَلآَأَنتُمْ عَابِدُونَ مَآأَعْبُدُ {3} وَلآَأَنَا عَابِدُُ مَّاعَبَدتُّمْ {4} وَلآَأَنتُمْ عَابِدُونَ مَآأَعْبُدُ {5} لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ { الكافرون 6}
aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, Dan aku bukan penyembah Robb yang kamu sembah, Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Robb yang aku sembah. Untukmulah dienmu, dan untukkulah dienku.
قُلْ يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي شَكٍّ مِّن دِينِي فَلآأَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ وَلَكِنْ أَعْبُدُ اللهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ {104} وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا وَلاَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ { يونس 105}
Katakanlah hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang dienku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman. dan (aku telah diperintah), “ Hadapkanlah mukamu kepada dien dengan tulus ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.

Sedangkan batasan tidak mampu adalah tidak mampu membebaskan diri dari kekuasaan orang-orang musyrik atau kalaupun mampu, tidak tahu jalan yang akan ditempuh.12

إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً { النســاء 98}
Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki maupun perempuan ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah).

Dan hendaklah orang-orang yang lemah / tidak mampu ini berdoa agar Allah mengeluarkan mereka dari negeri kafir dan menjadikan penolong bagi mereka.

وَمَالَكُمْ لاَتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا { النسـاء 75}
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki maupun wanita-wanita maupun anak-anaknya yang semuanya berdoa, “ Ya Robb kami, keluarkan kami dari negeri ini (Makkah) yang dzolim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau,, berilah kami penolong dari sisi Engkau !"

3. Jihad
Jihad adalah satu-satunya jalan yang akan memisahkan antara hizbullah dan hizbusy syaituhon secara tuntas, sehingga nantinya Allah akan memberikan kemenangan kepada hizbullah dan tegaklah dienullah di muka bumi ini. 13

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهوَ كَافِرُُ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ { البقرة 217}
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari dienmu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari diennya, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akherat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ فَإِنْ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرُُ{ الانفـال 39}
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah, dan supaya dien itu semata-mata milik Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُوْلاَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ {الحجـرات 15}
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

Begitu urgennya jihad sehingga Allah mencela orang-orang yang meninggalkannya dan bahkan mengancam mereka.
قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ {التوبة 24}
Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah -rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah, RosulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah datang dengan keputusanNya". Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang fasiq.

4. Mengisolir ahlu bid'ah dan mereka yang menuruti hawa nafsu (kesenangan duniawi)

Maksudnya adalah mengisolir mereka sehingga mereka bertaubat 14 .

Rusaknya dien ini bermula dari dua hal ;
a. Bid'ah
b. Menuruti cenderung (ambisi) nafsu.15

Para ulama salaf berpesan, waspadalah kalian terhadap fitnahnya 'alim yang fajir dan ahli Ibadah yang bodoh. Sesungguhnya fitnah keduanya adalah fitnah segala fitnah, sebab yang pertama seperti golongan yang dimurkai Allah, yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, dan yang kedua serupa dengan orang -orang yang sesat yang beramal tanpa ilmu. 16

Bid'ah adalah ;
فِعْلُ شَيْءٍ لَمْ يَرُدْ فِى الاُمُـْورِ التَّوْقِيْفِيَّةِ كَالعَقَائِدِ وَ العِبَادَاتِ وَ نَحْوِهَـا اَوْ شَيْءٍ لاَ يَتَّفِقُ مَعَ الشَّرِيْعَةِ فِى غَيْرِ ذَالِكَ
Amalan-amalan yang tidak masuk perkara-perkara yang bersifat tauqifie (harus diterima apa adanya) seperti unsur-unsur i'tiqod, Ibadah, dan lain sebagainya atau sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat selain perkara-perkara yang bersifat tauqifie itu.17

Para ulama' mengklasifikasikan bid'ah menurut tingkatannya menjadi :

a. Bid'ah Kufriyyah
yaitu bid'ah yang mengeluarkan pelakunya dari millah Islam, seperti ; Bid'ah Jahiliyyah, bid'ahnya orang-orang munafiq, penghalalan sesuatu yang diharamkan Allah, meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati, dan lain sebagainya. 18

وَجَعَلُوا للهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَاْلأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا للهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَاكَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَيَصِلُ إِلَى اللهِ وَمَاكَانَ للهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ سَآءَ مَايَحْكُمُونَ { الانعــام 136}
Dan mereka peruntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan prasangka mereka, “ Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; ddn saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka saji-sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka.

مَاجَعَلَ اللهُ مِن بَحِيرَةٍ وَلاَسَآئِبَةٍ وَلاَ وَصِيلَةٍ وَلاَ حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لاَيَعْقِلُونَ { المــائدة 103}
Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bakhiroh, saibah, washilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللهِ إِنَّهُمْ سَآءَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ { المنـافقون 2}
Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang yang telah mereka kerjakan.

وَلاَ تَدْعُوا مِن دُونِ اللهِ مَالاَيَنفَعُكَ وَلاَيَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ { يونس 106}
Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madhorot kepadamu selain Allah ; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang dholim

b. Bid'ah ghairu kufriyyah
Yaitu bid'ah yang tidak mengeluarkan pelakunya dari millah Islam, seperti berpuasa lalu berjemur di bawah terik matahari dengan tujuan menghilangkan syahwat, menyebut nama pemimpin diwaktu khutbah jum'at dan sebagian besar bid'ah yang ditambah-tambahkan terhadap suatu amalan yang masyru'

Sikap seorang muslim terhadap ahlul bida' wal ahwa' tergantung kepada keadaan mereka. Ini hanya bisa terwujud dengan bashiroh dan ma'rifah tammah. Apabila bid'ahnya adalah bid'ah kufriyyah, maka baro' yang diberikan haruslah baro' yang utuh, tanpa loyalitas sedikitpun. Bahkan baro'nya seperti baro' kepada orang-orang kafir dan musyrik tulen. Apabila bid'ahnya dibawah itu, atau merupakan kemaksiatan yang tidak sampai ke tingkatan kufur, maka baro' yang diterapkan juga tergantung / melihat keadaan si pelaku dan waktu. Untuk memberlakukan hajr, haruslah dilihat lebih lanjut kekuatan dan jumlah mereka. Yang demikian ini karena tujuan hajr adalah memberi peringatan dan pelajaran kepadanya dan yang lainnya agar tidak meniru perbuatannya. Karena itulah apabila maslahat dengan dilaksanakan hajr ini dimungkinkan bisa terwujud, yaitu berkurangnya kemaksiatan dan hakekatnya, maka hajr adalah masyru'. Tetapi jika sebaliknya dan bahkan menimbulkan kemaksiatan yang semakin merajalela serta pihak yang meng-hajr lemah, maka hajr tidak diperbolehkan. Bahkan tetap bergaul bisa jadi lebih baik dari pada hajr, dengan catatan, hati harus tetap mengingkarinya. Oleh sebab itu hajr harus didasari dengan keikhlasan dan ketepatan dalam mengikuti perintah Allah, Tidak boleh didasari hawa nafsu. 19

Al Baghowie menulis, Sesungguhnya hajr, baro' dan mu'addah di sini adalah untuk ahlul-bid'ah dalam masalah ushul (prinsipil) dari dien. Sedang ikhtilaf dalam hal-hal furu' diantaranya para ulama' adalah ikhtilaf yang Allah menghendaki orang-orang yang beriman tidak merasakan ganjalan dalam berdien. Yang seperti ini tidaklah menuntut hajr dan isolasi, karena ini juga terjadi di kalangan para shahabat dan mereka tetap saling bersaudara, saling mengasihi. 20

5. Terputusnya perhubungan pernikahan dan pewarisan
Sebagai dienul ‘izzah, 'iffah dan quwwah, Islam mencegah pengikutnya dari sifat plin plan dalam berdien, nifaq. Islam melarang pernikahan dengan orang-orang kafir, agar seorang muslimah tidak dikuasai oleh orang kafir atau anak-anak Islam dididik oleh Ibu-ibu kafir. 21

وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلاَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُوا إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ { البقـرة 221}
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, hingga mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walau dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan idzin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

... لاَهُنَّ حِلُُّ لَّهُمْ وَلاَهُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ .. { الممتحنـة 10 }
Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir tidak halal bagi mereka.
Islam juga memutuskan hubungan perwarisan antar muslim dan kafir, sehingga seorang muslim benar-benar terjaga dari harta yang haram. Selayaknyalah seorang mukmin tidak meminta rizki kecuali kepada Allah dan tidak berurusan dalam perkara yang kecil maupun yang besar, kecuali sesuai dengan irodah Allah, istislam yang berarti taat dan tunduk kepada-Nya. 22

قاَلَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ يَرِثُ المُسْلِمُ الْكَافِرَ وَ لاَ الكَافِرُ الْمُسْلِمَ {متفق عليه}
Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda. " Seorang muslim tidak boleh mewarisi seorang kafir dan seorang kafir tidak boleh mewarisi seorang muslim". (HR. Bukhori Muslim)

6. Larangan tasyabbuh dengan orang-orang kafir
a. Perhatian Islam terhadap eksistensi kaum muslim tidaklah sebatas isi mereka saja. Islam bahkan sangat memperhatikan seluruh aspek yang ada, sampai pada kulit kaum muslimin, bagian yang paling tampak bagi mereka. Karena itulah Islam melarang kaum muslimin dari tasyabuh terhadap orang-orang kafir.[23]
b. Penyerupaan dalam hal-hal yang tampak mengakibatkan penyerupaan dalam hal-hal yang tidak nampak, secara perlahan tetapi pasti,. Selain itu juga mengakibatkan kesesuaian dan persatuan walaupun jarak dan waktu berpaut jauh. Bahkan lebih jauh hal itu mengakibatkan kecintaan yang akan melahirkan penyerupaan. [24]



[1] . Al Mu'jamul Wasith, 1057
[2]. Ibid, 46
[3]. Al Wala' wal Baro' fiel Islam, Muhammad bin Sa'id Al Qohthoni, 90
[4]. Ibid
[5] . Al Furqon Baina Auliyaaur Rohman wa Auliyaausy Syaithan, Ibnu Taimiyyah, 7
[6] . Al Wala' wal Baro' fiel Islam, Sa'id bin Salim Al-Qohthoniy, 311
[7] . Ibid , hal : 312
[8] . Majmuu' Fatawaa Ibnu Taimiyyah, XXVIII/208-209, Al Wala' wal Baro' fiel Islam, Sa'id bin Salim Al-Qohthoniy,135-139
[9] . Al Wala' Wal Baro' fil-Islam, Sa'id bin Salim Al-Qohthoniy, 139-140
[10] . Ibid, 270-271
[11] . Ibid 277
[12] . Tafsiirul Qur'aanil 'Azhiim, Ibnu Katsir II/136
[13] . Al Wala' wal Baro' fiel Islam,Sa'id bin Salim Al-Qohthoniy, 290
[14] . Ibid, 3009
[15] . Lihat, I'lamul Muwaqi'in, Ibnul Qoyyim I/136, Iqtidlo Shirathal Mustaqim, Ibnu Taimiyyah, 25
[16] . Iqtidla', 25
[17] . Lihat, Al Isti'anah bi Ghoiril Muslimin Fil Fiqhil Islaamie, Dr. Abdullah bin Ibrahim Ath Thuraiqie, 396
[18] . Al Wala' wal Baro' fiel Islam, Sa'id bin Salim Al-Qohthoniy, 141-142 dan Al Isti'anah bi Ghoiril Muslimin, 394
[19] . Al Wala' wal Baro' fiel Islam, Sa'id bin Salim Al-Qohthoniy, 307-310, secara ringkas
[20] . Syarhus Sunan L/299 dengan sedikit perubahan
[21] . Al Wala' wal Baro' fiel Islam, Sa'id bin Salim Al-Qohthoniy, 314
[22] . Al Wala' wal Baro' fiel Islam, Sa'id bin Salim Al-Qohthoniy, 318
[23] . Ibid, 319
[24] . Ibid, 321

No comments:

Post a Comment

Entri Populer

mtv

 

statistik

Arrahmah.Com

PRICE MY BLOG

BlogUpp!

! FOLLOW ME !

Follow by Email

{mribonkblog.blogspot.com} is proudly powered by Blogger.com | Template by Azzam nurjihad | o-om.com